Pemuda dan Penjaga Tiket Bioskop

Tiket dan Big Mall.
Ada-ada saja orang itu. Ketika sedang membeli tiket, dengan gagahnya menyebut nama perempuan yang sedang melayaninya. Kira-kira pukul 20:00 Wita.

“Mau nonton, Arini” Demikian katanya, yang sudah pasti mengetahui namanya melalui name tag dibaju perempuan itu. Sementara yang diajak bicara tersenyum getir, dan bertanya mau nonton apa?

“Surga yang Tak Dirindukan 2, Arini”
“Berapa tiket, mas?”
“Satu saja, Arini”
“Baik mas,” Perempuan itu sambil memberi pilihan tempat duduk kepada orang dihadapannya.
“F6, Arini”

Teransaksi selesai, tiga puluh detik kemudian.

Saya tahu apa yang dilakukan orang itu adalah bentuk menghargai. Ini rupanya manjur. Perempuan itu memberi senyum spesial. Meski terlihat getir.
Tentu saja manjur. Seharian menjaga tiket pasti rasanya penat. Dengan menyebut nama perempuan itu sering-sering, perempuan itu akan menjadi seseorang yang sangat berharga.
“Oh ya, toilet dimana ya, Arini?” Kata pemuda itu kembali, sebelum masuk studio.
“Disebelah sana mas,” Perempuan itu menunjuk lokasi sebelah kanan, “Lurus aja ya, nanti akan ketemu”.

Pemuda itu mengangguk.

“Oh ya, Arini. Nama kamu spesial. Mirip nama tokoh di film ini”
“Terima kasih…”

Tak lama kemudian, ketika pemuda itu kembali dan bersiap-siap masuk studio, sang penjaga tiket tadi memanggilnya.

Pemuda yang dipanggil itu membalikkan badan. Sedikit heran. Ada apa?
“Oh ya mas. Saya hanya ingin memberi tahu. Nama saya Bunga. Bukan Arini. Kebetulan, baju saya basah sementara Arini masuk Shif pagi. Jadinya saya pinjam,” Perempuan itu memberi tahu, “Selamat menonton ya, mas”
“Oh iya, udah. Terima kasih ya…”

Alamaaaak caaaaaaaan…

Pemuda itu menghela nafas. Ia kemudian tertatih-tatih masuk ke studio. Saya yang merasakan betapa lucunya kejadian ini tidak bisa tertawa. Karena kebetulan pemuda itu adalah saya sendiri.

***

Tidak usah terlalu serius. Apalagi baper. Ini hanya fiksi. Yuk ah yang belum nonton Surga yang Tak Dirindukan 2, ayo ke bioskop. Kita dukung film baik di bioskop.

Ebid Salam
Samarinda, 22 Februari 2017